
HARI SABBATH DALAM PERSPEKTIF GEREJA ORTHODOX
Romo Yohanes Bambang C. Wicaksono, MTS
Sabbath adalah hari perhentian yang diperintahkan oleh Allah kepada Bangsa Israel di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Dan sampai sekarang hari Sabbath ini menjadi pusat terpenting dalam system ibadah Agama yahudi (Yudaisme). Hari Sabbath itu sendiri sebanding dengan hari ketujuh, yaitu hari sabtu ( Sabt) kata yang berakar sama dengan bahasa Ibrani Sabbat tersebut.
Namun oleh pengaruh dari hukum Sepuluh yang memerintahkan agar umat Israel merayakan hari Sabbth sebagai hari kudus, dimana orang dilarang melakukan pekerjaan apapun, ada sementara orang Kristen terutama dari kalangan tradisi Advent dan tradisi “World wide church of God” atau Armstrongisme yang menekankan bahwa setiap orang Kristen yang sejati, haruslah menguduskan hari sabtu ini untuk membuktikan ketaatan mereka kepada Allah, sebab dengan tak menguduskan hari sabath berarti murtad terhadap Allah. Sedangkan Tradisi Kristen yang lain mengatakan bahwa hari Sabbath itu sudah diganti oleh hari Minggu, yang tentu saja kaum Sabbathisme ( Hari ketujuhisme) akan cepat menunjuk bahwa kata Sabbath itu artinya Sabt( tujuh) atau Sabtu, dan bukan hari minggu (Dominggos) atau ahad. Sehingga terjadilah simpang siur mengenai masalah ini.
Ada yang mengatakan hari tertentu itu tidak perlu, semua hari itu sama saja, asal itu digunakan untuk menyembah Allah, semua hari adalah Sabbath. Mana yang benar dari semua pendapat ini. Dan kalau memang semua hari adalah sama saja, mengapa Allah memerintahkan hari Sabbath untuk dirayakan itu begitu jelas ditandaskan. Apakah betul merayakan hari Minggu itu telah menggantikan hari sabtu dan minggu itu sendirilah Sabbath. Adakah hubungan hari Sabbath ( hari ketujuh) itu dengan hari Minggu? Atau mungkin memang betul bahwa kedua-duanya itu tidak penting. Untuk mengetahui hal ini secara rici baiklah kita lihat penjelasan dibawah ini.
Asal-Usul Dan Makna Sabbath :
Dalam Kitab Nehemia 9:13-14 ditandaskan : “Engkau telah turun ke atas gunung Sinai dan berbicara dengan mereka dari langit dan memberikan mereka peraturan-peraturan yang adil, hukum-hukum yang benar serta ketetapan-ketetapan dan perintah-perintah yang baik. Juga Kau beritahukan kepada mereka SabbatMu Yang Kudus…..”. Menurut ayat ini “Sabbath kudus” itu diberikan oleh Allah kepada bangsa Israel itu pada saat pernyataan Allah di gunung Sinai, yaitu bersamaan diberikannya Hukum Sepuluh atau Dasa Titah, seperti yang tertulis dalam kitab keluaran 20 :8-11 yang berbunyi :”Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabbath, enam hari lamanya engkau bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabbath Tuhan, Allahmu, maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan….sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh, itulah sebabnya Tuhan memberkati hari Sabbath dan menguduskannya”.
Berdasarkan pernyataan Allah di gunung Sinai ini, Musa ketika mulai menulis Kitab Taurat yang pertama yaitu : Kitab Kejadian terutama di pasal yang kedua menadsakan :” Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuatNya, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuatNya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh dan menguduskannya, karena pada hari Sabbath itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuatNya itu” (Kej 2:2-3). Ayat ini bukalah perintah Allah secara langsung kepada Adam dan Hawa di taman eden, namun ini hanyalah komentar dari sanmg Penulis ( Musa) atas kisah penciptaan yang dikaitkan secara langsung dengan pengalaman pembaca yang dimaksud penulis yaitu “Bangsa Israel itu sendiri, yang telah menerima perintah di gunung Sinai untuk merayakan hari Sabbath. Dan juga kata “Sabbath” itu belum muncul dalam kejadian 2:2-3, yang muncul adalah “hari ketujuh” . Dengan demikian jelas bahwa Sabbath itu memang baru diberitahukan oleh Allah kepada bangsa Israel pada saat pemberian Hukum Sepuluh di gunung Sinai seperti yang dikatakan oleh Nabi Nehemia 9:13-14. Sabbath itu belum dikenal di Taman Eden, Tak dikenal oleh Adam, Abraham, Iskak, yakub dan Bangsa Israel sebelum pernyataan Allah digunung Sinai itu. Oleh karena itu tidaklah heran jika kita tak pernah menjumpai satu perintahpun dalam kitab Kejadian sampai Keluaran15 yang mengatakan bahwa “manusia harus merayakan hari Sabbath. Memang kata “Sabbath” itu pertama kali muncul dalam Kitab Keluaran 16:23-30, dan perintah untuk merayakannya itu juga diberikan dalam kontek “Pekerjaan” Israel mengumpulkan manna yang turun dari langit, namun sebagai perintah yang tertulis serta alasan-alasan merayakan dan menguduskan itu baru diberikan pada hukum sepuluh yang diberikan di atas Gunung Sinai kepada Musa.
Sebenarnya secara langsung perintah untuk merayakan dan menguduskan hari Sabbath itu, ada kaitannya dengan peristiwa “lahirnya Bangsa Israel itu sendiri”, yaitu lepas dari penindasan Mesir dimana disitu mereka di “pekerja” kan dengan berat dank eras sebagai budak, menuju sebagai bangsa yang bebas bak layaknya “berhenti dari kerja” keras dan paksa yang dilakukan di Mesir oleh mereka. Oleh karena itulah perintah merayakan dan menguduskan Sabbath itu ada kaitannya dengan “pekerjaan”. Kaitan ini dijelaskan dalam Kitab Ulangan 5:12-15 yang mengatakan :”Tetaplah ingat dan kuduskanlah hari Sabbath, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu. Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabbath Tuhan, Allahmu, maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan….sebab haruslah kau ingat, bahwa sengkaupun dahalu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh Tuhan, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung, itulah sebabnya Tuhan, Allahmu memerintahkan engkau merayakan hari Sabbath”. Sebagaimana Israel dahalu itu adalah budah orang Mesir yang harus bekerja keras, namun sekarang berhenti bekerja sebagai budak, den gan demikian Sabbath itu hari perhentian, dan dapat dikatakan sebagai hari Tuhan, yaitu tanda pelepasan mereka dari kerja keras tersebut. Dengan selalu merayakan Sabbath, Bangsa Israel selalu diingatkan terus-menerus kepada Allah yanmg telah melepaskan dan membebnaskan mereka dari penindasan dan penganiayaan, sehingga itu menjadi sarana mereka bersyukur dan berbakti kepada Allah yang berbelas kasihan kepada orang yang tertindas, budak dan binatang dengan tak memperkejakan mereka tanpa batas dan istirahat. Jadi Sabbath ini akhirnya menjadi gaya hidup Israel baik secara agamawi maupun sosial. Jika Sabbath itu dikaitkan dengan kisah penciptaan, itu hanya menunjukkan prototype “Kerja dan berhenti” kerja dalam karya Allah itu sendiri, namun bukan langsung menunjuk eksistensi Israel sebagai bangsa yang telah “disabbathkan” oleh Allah yaitu dibebaskan dari Mesir. Lagi pula karena hari ketujuh itu tak terjumpai dalam perintah merayakan Sabbath dengan berhenti dari kerja dalam prototype kisah pembebasan dari Mesir itu sendiri, maka pemilihan hari ketujuh sebagai hari perhentian itu diambil dari kisah penciptaan.
Namun dalam Kisah penciptaan itu sendiri, ternyata hari ketujuh yang dimaksud itu, berbeda dengan hari ketujuh dari realita hari yang dimiliki manusia pada jaman hidup di dunia sesudah Adam keluar dari Eden itu. Hal ini terbukti dari fakta bahwa hari kita yang terdiri dari 24 jam itu tergantung dari berputarnya bumi disekitar matahari atau dari gelap atau terangnya alam oleh sinar matahari. Padahal dalam kejadian 1 itu matahari, bulan, dan binatang-binatang itu baru terjadi sesudah hari yang keempat ( Kejadia 1:14-19), yang berarti hari pertama ( Kej 1:5) yaitu hari minggu dan hari kedua ( Kej 1:8) yaitu hari senin, dan hari ketiga ( Kej 1:13) yaitu hari selasa, itu berbeda dengan hari-hari yang ada sekarang yaitu yang terdiri dari 24 jam, meskipun disebutkan disana petang dan pagi. Kitapun tak tahu pagi dan petang yang bagaimana yang dimaksud oleh ayat-ayat itu, karena jelas itu tak tergantung pada terang dan gelapnya sinar matahari seperti hari yang kita kenal sekarang. Itu sebabnya hari dalam Kitab Kejadian 1 itu bukan hari yang sama seperti hari kita sekarang, dengan demikian hari ketujuh itu bukan tepat hari Sabtu yang kita kenal. Namun itu lebih bersifat hari yang bermakna periode atau jangka waktu yang terdiri dari tujuh tahap. Bahwa hari sabtulah yang akhirnya dinyatakan sebagai hari ketujuh karena perhitungan satu minggu dalam kalender kita manusia, baik jaman itu maupun jaman sekarang, meamng menyebutkan bahwa sabtulah hari ketujuh itu. Tahapan proses penciptaan yang memakan 7 periode itulah yang akhirnya digunakan sebagai rujukan untuk menyebut hari sabtu sebagai hari ketujuh.
Dengan melihat bukti-bukti Alkitab yang ada ini, maka jelas bahwa hari sabbat itu lebih terikat erat dengan peristiwa penciptaan Israel sebagai bangsa, yaitu pembebasan dari Mesir, daripada dengan penciptaan dunia itu sendiri. Karena penekanan Hari Sabbath itu bukan pada hari ketujuhnya, yang dalam proses penciptaan ternyata bukan tepat pada hari Sabtu seperti yang telah kita kenal sekarang, namun pada makna “berhenti kerja”nya, yaitu tanda peringatan “berhenti kerja” budak-budak” mesir itu.
Jadi berhenti bekerja sebagai budak itu diperingati dengan larangan melakukan”sesuatu” pekerjaan atau pekerjaan apapun, namun karena peringatan berhenti kerja itu harus diperingati oleh hari tertentu, maka dicari hari mana yang ada kaitannnya dengan “berhenti kerja” itu. Hal itu ditemukan dengan “Berhentinya Karya” Allah dalam penciptaan, yang terjadi pada hari”ketujuh” yang kebetulan dalam kalender Israel dan bangsa-bangsa lain di jaman itu dan jaman sekarang bertepatan dengan hari sabtu, meskipun “hari ketujuh” yang dimaksud dalam proses penciptaan (Kej 2:2-3) itu tidak sama persis dengan hari sabtu yang kita kenal. Jadi yang digaris bawahi sebenarnya adalah soal “berhenti kerja atau pembebasan” dan bukan hari Sabtunya. Sebab hari ketujuh dari kejadian 2:2-3 itu tak kita ketahui dari yang bagaimana. Allah memerintahkan hari ketujuh karena kaitan maknanya dengan pembebasan Israel dari perbudakan, bukan karena harinya itu sendiri.
Hari Sabbath Dan Tanda Perjanjian :
Alkitab secara keseluruhan dapat kita sebut sebagai Kitab Perjanjian, karena di dalamnya mengisahkan sejarah Perjanjian yang dilakukan Allah kepada manusia-manusia yang dipilihNya. Dan Perjanjian itu sendiri dibagi dalam : Perjanjian sebelum kedatangan Kristus yang disebut sebagai Perjanjian Lama, yang pada pokoknya dapat kita sebut Perjanjian utama : Perjanjian dengan Nuh dan lam semesta, Perjanjian dengan Abraham ( Iskak dan Yakub) serta Perjanjian dengan Musa ( dan Bangsa Israel). Sedangkan puncak dari semua Perjanjian tersebut adalah Perjanjian dengan Kristus yang disebut sebagai Perjanjian Baru. Dan ini jelas sekali dikatakan oleh Js. Paulus dalam suratnya bahwa :”Sebab Kristus adalah ya bagi semua janjia Allah” ( II Kor 1:20).
Dalam Perjanjian-perjanjian ini, Allah memberikan tanda fisik yanmg sesuai dengan isi perjanjian tersebut. Dalam Perjanjian dengan Nuh, dan segala mahluk, isi perjanjian adalah keputusan Allah untuk tidak menghukum bumi lagi dengan air bah, karena perjanjian ini adalah Perjanjian dengan alam semesta agar sejarah manusia dapat berlangsung demi pemenuhannya nanti di dalam Kristus, maka tanda perjanjian yang ada harus lah sesuai dengan isi perjanjian yang ada di alam luas yaitu “pelangi” (Bianglala, busur) – (Kej 9:12-16), dan dengan melihat busaur Allah, maka kita ingat perjanjianNya, bahwa Allah tak menghukum bumi lagi dengan air bah.
Demikian juga dengan Perjanjian Allah dengan Abraham ( Kej 17). Karena kepada Abraham ini, Allah menjanjikan keturunan dan melalui keturunan ini bangsa di muka bumi akan diberkati ( Kej 12:2-3, 13:14, 15:12-16), maka “alat” yang melaluinya keturunan Abraham akan muncul itulah yang diberi tanda Perjanjian tadi. Kepada Abraham Allah menjanjikan banyak keturunan dan Abraham menjadi Bapa sejumlah besar bangsa ( Kej 17:1-8), makan Abraham diperintah Allah atas alat tadi “haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah menjadi tanda Perjanjian antara Aku dan kamu…maka dalam dagingmulah PerjanjianKu itu menjadi perjanjian yang kekal. Dan orang yang tidak di sunat…, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya, ia telah mengingkari perjanjianKu”. (Kej 17:11-14). Untuk menggenapi dan mentaati tanda Perjanjian Allah inilah Abraham dan keturunannya yaitu seluruh bangsa Israel harus disunat.
Kepada Musa dan Israel, Allah memberikan kebebasan dan pelepasan yaitu perhentian dari kerja paksa perbudakan di Mesir. Oleh oleh karena itu Israel akhirnya menjadi umat Allah. Untuk memelihara kasih-karunia Allah atas perhentian ini tak terlupakan, sama seperti kepada Abraham mengenai janji tentang keturunan itu, maka Israelpun diberi tanda perjanjian atas pelepasan dan perhentian dari perbudakan itu dengan Sabbath yaitu : berhenti bekerja pada hari ketujuh. Sebagaimana yang dikatakan “…..hari-hari SabbathKu harus kau pelihara…Haruslah kamu pelihara hari Sabbath, sebab itulah hari kudus bagimu, siapa yang melanggar kekudusan hari Sabbath, pastilah ia dihukum mati, sebab setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari itu, orang itu harus dilenyapkan dari antara bangsanya….Maka haruslah orang Israel memelihara hari Sabbath, dengan merayakan hari Sabbath, turun-tumurun, menjadi Perjanjian Kekal, antara Aku dan orang Israel maka inilah suatu peringatan untuk selama-lamanya…..” ( Kel 31:12-17).
Beberapa hal yang patut kita catat dari ayat-ayat tersebut diatas : sama dengan janji sunat kepada Abraham, Sabbathpun itu dikatakan sebagai Perjanjian kekal, sama dengan janji sunat, Sabbathpun diberi syarat hukum mati bagi pelanggarnya. Sabbath ini adalah peringatan antara Allah dan orang Israel ( bukan bagi orang Kristen atau segenap manusia), memelihara Sabbath artinya merayakan Sabbath, dan cara merayakan itu sudah ditetapkan sendiri oleh Allah dalam Kitab tauratnya itu sendiri, jadi bukan dengan cara tradisi lainnya suatu misal :”TRADISI ADVENT”. Tidak mengikuti syarat merayakan ini berate sama saja melanggar ketentuan Allah. Membuat cara merayakan sendiri yang tidak saesuai dengan yang sudah ditetapkan Allah dalam merayakan Sabbath berarti tetap melanggar Sabbth biarpun kalau hari Sabtunya itu dipelihara. Untuk mengerti cara-cara merayakan ini, kita akan bahas pada bagian dibawah ini. Dengan demikian jelas bahwa Sabbath itu adalah tanda Perjanjian atau bahkan Perjanjian itu sendiri, sama dengan sunat dan busur pelangi. Dan Sabbath itu menjadi Perjanjian dan Peringatan kekal antara Aku dan orang Israel.
Sabbath Dan Ibadah Israel
Dalam Kitab Imamat ditandaskan :”kamu harus memelihara harihari SabbathKu dan menghormati tempat kudusKu, Akulah Tuhan” ( Im 19:30, 26:2). Dalam ayat ini terpapar bahwa pemeliharaan Sabbath dan penghormatan akan tempat kudus ( kemah suci, tabernakel, Bait Allah) itu saling terkait. Itu menunjukkan pada kita bahwa perayaan Sabbath itu bukanlah sesuatu yang vakum tanpa isi. Asalkan hari Sabtunya saja yang kita pelihara, lalu cara-cara melakukannnya kita buat sendiri, itu sudah cukup, jelas tidaklah demikian. Sabbath itu terkait erat dengan tempat kudus atau “Locus Sanctuary” yaitu tata cara ibadah Israel di kemah kudus.
Untuk lebih jelasnya, kita akan lihat konteks Kitab Keluaran 31 dan Kel 34 :18-26 serta Kel 35. Dalam Keluaran 31 itu, konteksnya adalah berbicara tentang persiapan pembangunan kemah suci, demikian juga dengan Keluaran 35, juga membicarakan tentang Pembangunan kemah suci yang sama tadi, namun di tengah-tengah membahas masalah kemah suci inilah Sabbath dibicarakan. Bahkan dalam Keluaran 34 :18-26 itu, Sabbath itu dibahas dalam konteks membicara korban ibadah dan hari-hari raya Israel. Dengan demikian jelas bahwa bukan hanya kerangka harinya saja yang harus dipelihara, namun Allah juga telah memberikan hukum dan peraturan mengenai cara merayakan Sabbath itu yaitu dalam konteks ibadah kemah suci ( Bait Allah) dan hari-hari raya serta korban ibadah Israel dengan peraturan serta cara-cara tertentu, jadi bukan seperti yang terdapat dalam Gereja Advent atau Gereja Kristen manapun. Sabtu dipelihara , namun jika hukum dan cara merayakan yang dilakukan pada hari sabtu itu tidak sesuai dengan apa yang dimaksudkan Allah pada orang Israel dalam melakukan ibadah, maka hal tersebut tetap dikatakan sebagai suatu pelanggaran, dan menurut hukum taurat orang yang demikian itu, wajib dihukum dan dilenyapkan. JIka hendak merayakan Sabbath sebagai hukum Allah yang kekal, maka haruslah konsisten dengan cara pelaksanaannnya, bukan comot sini dan buang sana seperti halnya yang dilakukan oleh sementara orang yang melakukan demikian itu. Artinya jika ingin secara utuh, konsisten dan lengkap serta Alkitabiah menjalankan Sabbath, maka orang itu harus menjadi pengikut Agama yahudi (Yudaisme) dan bukan pengikut Iman Kristen. Lalu bagaimanakah syarat hukum merayakan Sabbath yang sesuai dengan Alkitab itu? Untuk lebih jelasnya marilah kita lihat paparan dibawah ini.
Syarat Hukum Memelihara Dan Merayakan Sabbath
Dalam Kitab Keluaran ditandaskan :”…maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atas hewanmu atau orang asing yang ditempat kediamanmu” ( Kel 20:10).
Dalam Kitab Ulangan juga disebutkan :”…maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau lembumu atau keledaimu, atau hewanmu yang manapun, atau orang asing yang ditempat kediamanmu, supaya hambamu laki-laki atau hambamu perempuan berhenti seperti engkau juga” (Ul 5:14)
Dalam Kitab Imamat juga mengungkapkan :”Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada Sabbath, hari perhentian, yakni hari pertemuan kiudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan (you are not to do any work = kamu tak boleh melakukan pekerjaan apapun, Niv), itulah Sabbath bagi Tuhan di segala tempat kediamanmu” ( Im 23:3)
Dan kemudian dalam Kitab Keluaran dikatakan :”janganlah kamu memasang api di manapun dalam tempat kediamanmu pada hari Sabbath” (Kel 35:3).
Ayat-ayat tersebut diatas itu, menjelaskan kepada kita bahwa bahwa inti dan hakekat merayakan Sabbath itu adalah “Berhenti” penuh dari segala pekerjaan. Karena yang dilarang dilakukan itu bukan hanya “Pekerjaan” atau “Perbuatan” yang uruk saja, namun “Any work” atau “Pekerjaan apapun” tanpa perduli baik atau buruk, itu tak boleh dilakukan. Terbukti bahwa pekerjaan yang dilarang itu bukan hanya pekerjaan yang buruk saja lalu yang baik boleh dilakukan, adalah bahwa hewan manapun, termasuk lembu dan keledai juga harus berhenti bekerja, padahal binatang itu tak mengenal pekerjaan baik dan buruk. Jadi yang dilarang itu semua pekerjaan dan tanpa mengenal sifat pekerjaan, yang jelas itu pekerjaan harus berhenti penuh dan tak boleh dilakukan, bahkan yang paling kecilpun asal itu pekerjaan, maka hal tersebut dilarang untuk dilakukan pada hari Sabbath ini, suatu misal “Memasang api”.
Pada dasarnya, kita tak dapat melakukan sesuatu apapun pada hari Sabbath. Dengan demikian maka hal tersebut makin menegaskan bagi kita bahwa bukan hari sabtunya sebagai hari yang menjadi focus, karena orang asingpun diperintahkan untuk tidak bekerja jika mereka tinggal diterngah-tengah orang Israel, demikian juga budak-budak, padahal Alkitab juga melarang Israel untuk memperbudak sesame Israel namun hanya orang-orang kafir diantara bangsa-bangsa non-Israel saja ( Im 25:39-45), yang berarti orang-orang kafir yang tak berada dibawah kuasa hukum Allah yaitu yang tak terikat pada ketentuan-ketentua hukum Sabbath ini, berhenti dari pekerjaan bukan karena merayakan Sabbath, namun hanya berhenti demi berhenti dari pekerjaan. Sebab jika mereka merayakan Sabbath berarti mereka berhenti jadi kafir, dengan demikian tak boleh jadi budak lagi, namun sama dengan orang Israel. Artinya sebagai budak mereka itu bukanlah Israel, sehingga mereka tak melakukan ibadah Sabbath yang ditetapkan Allah. Jadi mereka berhenti dari melakukan pekerjaan itu, bukanlah karena meyarakan untuk beribadah, namun demi berhenti itu sendiri. Dengan demikian makin jelaslah bagi kita bahwa hakikat Sabbath itu berkaitan erat dengan tak boleh melakukan pekerjaan apapun sebagai tanda langsung atas “berhentinya” orang Israel dari “Pekerjaan” sebagai budak di Mesir.
Karena inti dan hakikat Sabbath itu terkait erat dengan tanda “berhenti” nya Israel dari pekerjaan sebagai budak, maka pelanggaran atas ketentuan yang telah ditetapkan itu, sama saja menyerang inti makna Sabbath, karena itu akan mengingatkan kembali pada “pekerjaan” sebagai budak, dengan demikian melecehkan bahkan menghujat karya pembebasan dan “Perhentian” yang dilakukan oleh Allah terhadap Israel. Itu sebabnya dalam kacamata orang yahudi, Yesus benar-benar betul-betul menghujat makna hari Sabbath, karena penekanan Yesus justru pada melakukan atau berbuat sesuatu, hal itu nyata sekali ditandaskan oleh Js. Matius dalam injilnya bahwa :”Lihatlah, murid-muridMu BERBUAT SESUATU yang tidak diperbolehkan pada hari Sabbath” (Mat 12:2), “karena itu boleh BERBUAT BAIK pada hari Sabbath” (Mat 12:2), “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabbath, BERBUAT BAIK ATAU BERBUAT JAHAT…”(Mark 3:4). Tindakan Yesus ini tak dapat didamaikan dengan ketentuan hukum Sabbath yang ada dalam Taurat diatas, karena jelas tak diberi syarat “hanya perbuatan/pekerjaan baik saja yang dilakukan” atau “hanya perbuatan/pekerjaan jahat saja yang dilarang”. Bahkan para murid Yesuspun “berbuat sesuatu” itu, merupakan kontradiksi secara langsung dengan hukum “jangan melakukan SESUATU PEKERJAAN” ( Kel 20:10, Ul 5:14). Justru yang dilarang untuk melakukan “sesuatu”, namun malah “sesuatu” itu juga yang dilanggar murid-murid Yesus. Taurat tak memberi syarat “SESUATU” tadi : baik atau jahat, namun Yesus mengubah dan memperak-porandakan ketentuan itu dengan memberi syarat yang tak ada dalam Taurat yaitu : “Boleh berbuat baik”. Dalam kacamata Perjanjian Lama dan orang-orang yahudi yang tahu hukum Perjanjian Lama, jelas Yesus itu melanggar, dan menurut hukum Dia memang patut dihukum mati. Untuk itulah sebagai orang Kristen jelas tak mungkin Sabbath diambil alih langsung begitu saja, kemudian diterapkan pada kehidupan Gereja. Sikap ajaran dan kehidupan serta pribadi Yesus Kristus itu harus diperhituingkan jika kita hendak nmengerti bagaimana seharusnya sikap Kristen terhadap Sabbath. Betulkan manusia Kristen itu terikat pada Perjanjian kekal Sabbath yang merupakan Perjanjian Allah dengan Israel ? Betulkah pengalaman sejarah Kristen itu didasari pada peristiwa pelepasan dari perbudakan dari Mesir, dimana Sabbath itu sendiri menjadi tanda perjanjian secara langsung ? kalau bukan, peristiwa apa yang mendasari Perjanjian Allah dengan komunitas Kristen ? Inilah yang akan kita bahas lebih lanjut dalam bab-bab berikutnya.
Masih berbicara tentang sikap Yesus, Thesis Taurat bahwa Sabbath itu dilakukan karena Allah berhenti bekerja pada hari ketujuh ( Kej 2:2-3, Kel 20:11) itu ditolak oleh Yesus dan dijungkir balikan, melalui pernyataanNya yang mengatakan :”BapaKu bekerja sampai sekarang” (Yoh 5:17), sebagai koreksi atas pernyataan “Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan” (Kej 2:2-3). Pernyataan Kejadian 2:2-3 itu hanya boleh dimengerri berdasarkan ajaran Yesus, bahwa bukanlah Allah yang berhenti bekerja, namun alam semesta ini telah selesai diciptakan, Allah sendiri tak henti-hentinya bekerja saampai sekarang: memelihara, menghidupi, menopang, membimbing, mencipta manusia baru yaitu bayi-bayi dan lain-lain. Jadi memang tak pernah ada saatnya Allah itu berhenti bekerja, dulupun tidak, sekarangpun tidak, pada hari ketujuhpun tidak. Dengan demikian jelas bahwa Sabbath itu diperintahkan bukan karena memang betul ada perhentian pada Allah seolah-olah Dia itu manusia yang perlu istirahat. Maha suci Allah dari sifat-sifat kelemahan seperti itu. Atas dasar inilah, jika para pengikut faham Sabbathisme atau hari ketujuhisme ini hendak merujuk pada “perhentian” kerja Allah, maka harap diingat bahwa Allah tak pernah berhenti bekerja, yang berhenti itu adalah selesainya pekerjaan penciptaan.
Memang Sabbath itu sebagai hari peringatan karya Allah atas terciptanya bangsa Israel melalui pembebasan dari Mesir, dan itu haruslah merupakan “hari kenikmatan”, “hari yang mulia” , bagi Israel dimana mereka dilarang untuk “melakukan urusan” dengan “tidak menginjak-injak hukum Sabbath” serta menghormatinya” dengan tidak menjalankan segala acara”, “dengan tidak mengurusi urusan” atau “berkata omong kosong ( Yes 58:13-14), namun bagi Gereja, permasahannya jadi lain. Karena terciptanya atau lahirnya Gereja itu, bukanlah dari peristiwa pembebasan dari tanah Mesir, dan bukan dari “pekerjaan” secara jasmani yang dipaksakan oleh siapapun. Gereja lahir dan tercipta karena kematian dan kebangkitan Kristus dari antara orang mati. Dengan demikian umat Kristen (yang bukan umat Israel secara fisik) harus mengingat peristiwa yang mendasar ini, bukan mencangkokkan sesuatu yang bukan merupakan pengalaman sejarah eksistensinya. Memang sungguh tak masuk akal jika kemerdekaan bangsa Indonesia harus dirayakan sesuai dengan tanggal perayaan kemerdekaan bangsa Jepang. Demikian halnya sama juga tidak masuk akal dan sesatnya kita, memaksakan tanda perjanjian pembebasan Israel dari Mesir kepada Gereja yang bukan dibebaskan dari perbudakan Mesir, bukan oleh peristiwa dibebaskannya dari Mesir, namun dibebaskannnya dari dosa dan maut oleh peristiwa penyaliban, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati pada hari ketiga.
Sabbath Dan Sosial – Keagamaan Israel
Setelah pembebasannya dari Mesir dan terciptanya status dan rksistensi kebangsaannya, Israel masuk ketanah kanaan dan disana mereka hidup sebagai “Bangsa yang bersifat agraris dengan hukum-hukum keagamaan sebagai pranata hidup sosia kemasyarakatan mereka”. Sabbath adalah salah satu daripadanya, serta itu merupakan daur lingkaran gaya hidup Israel sebagai individu yang bermasyarakat dan juga sebagai komunitas bangsa yang terikat pada budaya yang berpusat pada agama.
Ikatan erat antara Sabbath dengan system hidup Israel secara keseluruhan ini sangat jelas sekali, sehingga memisahkan konteks –sosial keagamaan Israel yang merupakan pranata Illahi dari Sabbath, lalu menerapkannya pada Gereja Kristen modern yang tak membentuk suatu ikatan budaya kebangsaan dengan hidup sosial yang bersifat agamis adalah merupakan pemerkosaan atas fakta Alkitab. Dan yang lebih penting adalah bahwa hal tersebut telah memperkosa kebenaran wahyu itu sendiri.
Sabbath itu terikat erat dengan system hidup sosial-keagamaan Israel dan itu dapat kita lihat dalam Kitab Keluaran 23:1-19. Dalam Perikop ini beberapa hukum sosial keagamaan Israel itu dijelaskan. Disana dijelaskan mengenai larangan menyebarkan kabar bohong, kerelaan menolong binatang milik musuh yang tersesat atau keberatan beban, keadilan, suap dan akhirnya Sabbath dan hari-hari raya dan perayaan Israel. Dalam ayat 10-11 dalam Kitab Keluaran 23 itu dibicarakan tentang “Tahun Sabbath” yaitu bekerja dan mengusahakan tanah selama enam tahun dan menghentikannya selama tahun ketujuh, ayat 12 berbicara tentang “HARI SABBATH” yaitu bekerja selama enam hari dan berhenti pada hati yang ketujuh, sedangkan dari ayat 14-19 dijelaskan mengenai keharusan merayakan tiga hari rayaIsrael, roti tanpa ragi, hari raya buah bungaran, hari raya pengumpulan hasil, dan peraturan mempersembahkan korban binatang.
Perikop diatas merupakan suatu kesatuan yang tak dapat dilepaskan, sehingga ketentuan tentang “Hari Sabbath jelas merupakan satuan dengan ketentuan Tahun Sabbath, tiga hari raya dan korban-korban yang menyertainya. Merayakan Sabbath berarti bukan hanya “Hari Sabbath”, namun juga “Tahun Sabbath”, dan beserta itu merayakan perayaan-perayaan tiga lainnya yang disertai dengan pranata korban yang menyertainya. Dengan demikian mengambil hari Sabbathnya saja dan melupakan konteks kesatuan perikop sebagai yang sama-sama diberikan oleh Allah, adalah merupakan pemerkosaan kebenaran. Penjelasan lebih rinci bagaimana seharusnya Sabbath itu harus dirayakan dan dalam konteks apa Sabbath itu dirayakan, itu dapat kita lihat dalam Kitab Imamat 23.
Dalam Kitab Imamat 23:2 disebutkan bahwa :”…hari-hari Raya yang ditetapkan Tuhan yang harus kamu maklumkan….adalah yang berikut. Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada Sabbath…”. Selanjutnya dalam perikop pasal ini memberikan rincia dari hari-hari raya dengan tatacara pelaksanaannya, termasuk di dalamnya adalah apa yang sudah disebut dalam Kitab Keluaran 23 diatas : paskah, hari raya roti tidak beragi, dimana syarat pelaksanaannya sama dengan Sabbath yaitu : “janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat” ( Um 23:8), dimana ini menunjukkan perluasan makna Sabbath dalam kehidupan sosial-keagamaan Israel. Demikian juga hari raya pengumpulan hasil, dan hari raya buah bungaran itu, dihitung dalam kaitannya dengan Sabbath (Imamat 23:11,15) dan juga dalam kaitannya untuk tidak melakukan pekerjaan berat ( Im 23:25). Semua ini menunjukan bahwa Sabbath itu menjadi dasar dari semua hari raya Israel dan system kehidupan bangsa itu. Serta Sabbath itu tak dibatasi pada hari ketujuh secara teisolasi namun juga terkait dengan perayaan – perayaan Israel lainnya yang disertai syarat korban tyang harus dipenuhi, dimana setiap perayaan hari raya itu memiliki cirri Sabbath : tahun Sabbath, 7 Sabbath ( Minggu Sabbath), serta sabbath tak memperbolehkan orang untuk bekerja.
Demikianlah Alkitab telah memberikan peraturannya sendiri bagaimana Sabbath itu harus dilaksanakan dan dalam konteks yang bagaimana itu harus dilaksanakan. Jika dalam hukum sepuluh hanya disebut mengenai “Hari Sabbath” saja, itu disebabkan hukum sepuluh hanya menunjuk garis pokok ketentuan hukum saja. Sedangkan rinciannnya disebut ditempat lain seperti yang telah kita bahas diatas, suatu misal : menghormati bapa – ibu itu diperluas dengan menghormati semua otoritas yang ada diatas kita : pemimpin, guru, tua-tua, pemerintah dan sebagainya. Jadi sungguh tak masuk akal jika kita hanya mengambil hukum menghormati bapa-ibu lalu menolak ketetapan mentaati pemerintah sebagai perluasan makna hukum dasar tadi. Demikian pula dengan Sabbath ini. Mengambil Hari Sabbath saja, lalu mengabaikan segenap rincian ketentuannya dengan segala konteks dan kaitannya seperti yang dijelaskan oleh Kitab Suci sendiri, adalah merupakan tindak sewenang-wenang terhadap nats Kitab Suci. JIka Sabbath harus diikuti maka semua ketentuannya harus tidak boleh diabaikan. Melakukan ini berarti kita harus menjalankan seluruh hukum Perjanjian Lama tanpa pilih-pilih, yang berarti kita harus menjadi yahudi. Itulah konsekwensinya jika kita mau taat terhadap ketentuan Sabbath yang utuh, konsekwensi dan sempurna.
Lingkup Makna Sabbath
Jika kita tewlah menyebutkan bahwa Kitab Suci bukan hanya mengajarkan mengenai “Hari Sabbath” tetapi juga “Minggu Sabbath” ( Hari raya tujuh minggu : Minggu 7 ke 14,21,28,35,42, 49), dan juga “Tahun Sabbath” (Tahun 7, ke 14,21,28,35,42,49), dan semuanya ini ditetapkan oleh Allah sendiri sebagai “suatu ketetapan untuk selama-lamannya” ( Im 23:14), yang bermakna tak seorangpun boleh menghapuskan ketetapan-ketetapan yang menyangkut Sabbath dengan segala kaitan perluasan maknanya tadi.
Jadi telah kita sebutkan bahwa perayaan Hari Sabbath itu ditentukan bagi “Israel” dalam kaitannya langsung dengan sejarah suci Israel yang dilepaskan dari perbudakan di Mesir menuju pada “Perhentian”, kemerdekaan, sehingga Sabbath itu merupakan “Perjanjian kekal” buat Israel.
Oleh karena itu hakekat perayaan Sabbath itu adalah “Berhenti Kerja” bagi individu-individu umat Israel. Pelanggaran terhadap ketentuan “berhenti kerja” ini dikritik dengan tegas oleh para nabi, bahkan diancam hukuman Tuhan (Yeremia 17:19-27, Yesaya 58:13-14)
Hari Sabbath adalah ketentuan dasar yang menyangkut perorangan yang harus “berhenti kerja”, artinya perhentian sebagai tanda pelepasan dari perbudakan ini bersangkutan dengan pelaku-pelakunya yaitu manusianya yang harus berhenti kerja. Namun ternyata kaitan Sabbath itu begitu luasnya, sehingga bukan hanya manusianya saja yang dikeani ketetapan untuk berhenti kerja,. Namun juga tempat kerja yaitu tanahpun punya harus ounya hari perhentiannya atau lebih tepat “tahun perhentiannya” yaitu tahun Sabbath ( Im 25), karena bangsa Israel adalah bangsa petani dan peternak.
Menurut ketetapan Tuhan ini, bangsa Israel boleh mengerjakan tanah itu selama enam tahun, dan pada tahun ketujuh “tanah itu harus mendapat perhentian sebagai Sabbath bagi Tuhan” (Im 25:2), segala sesuatu yang tumbuh di tanah selama tahun Sabbath itu tak boleh diambil oleh Israel, dabn yang boleh mengambil itu adalah orang asing atau orang miskin. Melalui system tahun Sabbath ini, orang Israel diajar untuk memikirkan kebutuhan orang lain, disamping untuk menghormati lingkungan dengan tidak hanya mengeksploitasi lingkungan demi keuntungannya saja, namun juga lingkungan yaitu tanah diberi kesempatan untuk memulihkan kesuburannya kembali. Melalui tahun Sabbath ini, Israel diajar menghargai kebutuhan orang lain dan juga diajar tanggung jawabnya pada pemeliharaan lingkungan dan bukan penghancuran karena manusia itu diciptakan untuk menjaga kelestarian alam yang dengan demikian akan menunjang lingkup hidupnya sendiri demi kebahagiaan manusia Israel itu. Karena demikian dalamnya jangkuan makna Sabbath, dan karena alam itu diciptakan bagi manusia dan Allah menganggapnya sangat baik (Kej 1:31), maka pelanggaran atas ketentuan “Tahun Sabbath” ini diancam dengan hukuman oleh Allah, sama seperti pelanggaran atas hari Sabbath itu sewndiri, yaitu hukuman pembuangan dan perang, sehingga kesucian tanah itu terjaga yaitu Sabbathnya atau perhentiannya dapat tyerpelihara ( Im 26:14-17, 34-35). Jika ada “Hari Sabbath”, “Minggu Sabbath” dan “Tahun Sabbath”, maka ada juga “Abad Sabbath” yang terjadi setiap setengah abad atau “7 x tahun Sabbath” dan ini disebut sebagai “Tahun Yobel”. Pada saat ini ada pembebasan besar-besaran atas tanah yang digadaikan dan juga atas budak yang diperhamba. Saat ini orang harus mengembalikan secara cuma-Cuma semua yang tegdai dan membebaskan secara tanpa syarat semua budak Israel yang dimiliki (Im 25:3-55). Yang jelas tahun Yobel atau “Ahad Sabbath” yang terjadi setiap tahun kelima puluh ini merupakan penetrapan makna pembebasan dari Mesir secara budaya dan secara komunitas dari umat Israel, untuk mengajar mnereka bahwa segala sesuatu itu adalah pemberian dan milik Tuhan, bahwa bangsa Israel bukan pemilik mutlak atas tanah itu. Dengan demikian atas harta milik di dunia, mereka itu hanyalah menumpang pada Allah (Im 23:23-24), sehingga mengajar mereka untuk bersyukur pada Allah. Demikian juga pembebasan atas budak tanpa syarat ini untuk mengajar orang, bahwa pada akhirnya tuan manusia yang sebenarnya adalah Allah itu sendiri.
Sesama manusia itu adalaha hanya sesama hamba Allah, oleh karena itu tak seorangpun berhak menjajah dan memperbudak manusia yang lain. Hal ini dikarenakan Israelpun telah dilepaskan dari perbudakan manusia di Mesir : “ karena padaKulah orang Israel menjadi hamba, mereka adalah hamba-hambaKu yang Kubawa keluar dari tanah Mesir, Akulah Tuhan, AllahMu” ( Im 25:55). Dengan demikian makin jelaslah bagi kita bahwa yang dipentingkan oleh Alkitab menmgenai hari Sabbath itu bagi Israel itu, bukanlah hanya sekedar masalah hari Sabtunya saja, namun lebih dari itu sebagai penterapan secara langsung makna pembebasan mereka dari Mesir dalam kehidupan individu, masyarakat, sosial, ekonomi, agama danb bangsa mereka yaitu menaruh hormat akan kebebasan dan kemerdekaan. Kebebasan dari perbudakan kerja dan waktu (hari Sabbath), kebebasan dari keterikatan benda jasmani dan harta dengan mempersembahkan buah-buah hasil pertanian ( Minggu Sabbath), kebebasan dari keserakahan dan eksploitasi atas alam dan lingkungan secara tak bertanggung jawab ( tahun Sabbath) serta kebebasan dari keserakahan dan kekejaman manusia yang hanya ingin mengeksploitasi kaum lemah (perbudakan) dan mengakumulasi kekayaan tanpa memperdulikan pihak lain yang berada dalam posisi terjepit secara ekonomi (penggadaian) atas hak milik rumah dan tanah yang dinyatakan dalam perayaan tahun Yobel ( Abad Sabbath).
Dengan melihat akan keutuhan berita Alkitab mengenai makna Sabbath ini, jelas suatu pemikiran yang amat kerdil dan sempit bila penekanan hari Sabbath itu hanya pada penggunaan hari sabtu sebagai hari berbakti orang Kristen demikian saja. Karena Alkitab mengatakan bahwa Sabbath-Sabbath yang bersifat “Minggu”, “Tahun” dan “Abad” itu, jelas tidak sama sekali menekankan pada sabtunya. Lagi pula merayakan hari Sabbath, tetapi mengabaikan “Minggu Sabbath”, Tahun Sabbath”, dan “Abad Sabbath”, adalah merupakan pelanggaran ajaran KItab suci karena segenap Sabbath-Sabbath tadi adalah merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Juga melihat hari Sabbath hanya dengan penerkanan hari sabtunya saja, bagi umat Kristen adalah pendangkalan yang amat sangat atas pesan moral Sabbath yang amat merangkum seperti halnya telah kita bahas diatas.
Makin tak dapat diragukan lagi bagi kita, bahwa Sabbath itu adalah system ritual –moral-agamawi-sosial bagi bangsa Israel yang eksistensinya didasarkan pada pelepasan mereka dari perbudakan di tanah Mesir, sehingga semua jenis Sabbath yang mempunyai implikasi yang merangkum itu, selalu mengingatkan dan menunjuk pada peristiwa penting dalam sejarah Israel itu. Maka Gereja Kristen sebagai yang bukan bagian dari “Bangsa Israel” yang dibebaskan dari Mesir, tentunya mempunyai dasar eksistensi yang berbeda, dalam dalam mengerti makna kebebasan yang merangkum, yang dalam Isreal dinyatakan dalam perayaan-perayaan “Hari”, “Minggu”, “Tahun” dan “Abad Sabbath”. Inilah Sabbath yang utuh, bukjan hanya hari Sabtu yang lepas dari konteks makna dan syarat pelaksanaannya yang hendak dipaksakan oleh beberapa Gereja yang bersifat Sabbathisme semacam Gereja Advent itu.
Bagi Umat Yahudi menghayati makna pelepasan mereka dari Mesir yang dinyatakan dalam hukum praktis mengenai Sabbath-sabbath ini, adalah sesuatu yang dapat memperdalam iman mereka kepada Allah, serta makin memperdalam rasa syukur mereka pada nikmat dan karunia Allah yang membebaskan mereka dari perbudakan di tanah Mesir itu. Sehingga melalui pelaksanaan akan ketentuan dan syarat-syarat pengamalan secara individu atau secara komunitas akan makin disadarkan perlunya menyisihkan waktu bagi Tuhan bukan hanya sibuk mementingkan diri mencari kebutuhan jasmaninya saja (hari Sabbth). Dengan demikian setiap hari Sabbath mereka diperingatkan akan kjarya dahsyat Allah yang telah membebaskan mereka dari perbudakan di tanah Mesir. Demikian juga agar mereka tidak menjadi terlalu materialistik dan menganggap segala sesuatu itu akibat dari usaha dan kepandaiannya sendiri, mereka diingatkan akan ketidak boleh terikatan mereka pada harta benda namun mengembalikan semuanya pada Allah dalam merayakan “Minggu Sabbath” dimana hasil kerja mereka dalam wujud panenan itu diserahkan pada Tuhan. Dan bahwa hubungan manusia dengan Allah yang diingatkan dalam peristiwa Hari dan Minggui Sabbath itu, bukanlah hanya bersifat individualistic saja, namun juga mempunyai implikasi terhadap alam dan lingkungan jasmani yang tercipta ini, jelas diajarkan oleh Allah pada bangsa yahudi ini melalui Perayaan tahun Sabbath, dan akhirnya kesadaran akan implikasi semestawi dari perayaan Sabbath dalam Tahun Sabbath itu harus juga berkaitan secara praktis dan langsung dengan sesamanya, yaitu pembebasan budak dan harta milik yang tergadai yang secara Cuma-cumaharus dibebaskan pada “Abad Sabbath” (Tahun Yobel) adalah mengajar bangsa Israel mengenai cinta kasih kepada sesame seperti kepada diri sendiri dalam wujud praktis yang langsung diterapkan.
Ini semua mengandung moral yang dalam bagi bangsa Israel, yang tema eksistensi kebneradaan dan agamnya adalah pembebasan dari perbudakan dari Mesir, sehingga dengan melaksanakan semua ketentuan dan syarat hukum pengamalan Sabbath-Sabbath itu, mereka akan diajar menuju pada kesucianhidup yang serba merangkum. Itulah sebabnya Sabbath itu disebut sarana pengudusan bagi Israel, sebagaimana yang dikatakan :” Akan tetapi hari-hari SabbathKu harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku (Allah) dan kamu (Israel), turun-tumurun, sehingga kamu mengetahui bahwa Akulah Tuhan, yang menguduskan kamu” (Kel 3:23). Melalui pemeliharaan Sabbath inilah Israel tahu bahwa Allah menguduskan mereka, yaitu melalui ajaran-ajaran iman dan moral yang disampaikan oleh perayaan-perayaan Sabbath tadi yang disertai dengan segala ketentuan hukum dan syarat-syarat pelaksanaannya. Allahlah yang menguduskan Israel melalui pemeliharaan Sabbath itu, dan perayaan Sabbathlah yang menjadi sarana pengudusan, karena itu adalah tanda Perjanjian Allah yang kekal dengan Israel, sebagai yang telah dilepaskan dari perbudakan di tanah Mesir.
bersambung bagian kedua...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar