Powered By Blogger

Sabtu, 24 Juli 2010

HARI SABBATH DALAM PERSPEKTIF GEREJA ORTHODOX (bagian II)

Sabbath Dan Bangsa-Bangsa Bukan Yahudi

Kelompok aliran Sabbathisme mempercayai dan mengajarkan bahwa Sabbath itu berlaku juga bagi orang orang yang bukan Yahudi, yaitu orang-orang Kristen, dimana data Alkitab diatas justru membuktikan yang sebaliknya. Alasan mereka ini bukannya tanpa dasar. Memang ada dasarnya tetapi ditafsirkan tanpa melihat konteks pewahyuan Perjanjian lama maupun sejarah Bangsa Israel, apalagi tanpa memperhatikan makna terdalam dari wahyu Perjanjian baru yaitu makna Inkanasi Sang Sabda, kematian dan kebangkitan Yesus yang adalah pondasi dari dari eksistensi keberadaan dan system keagamaan Gereja Kristen.

Dasar yang diambil adalah nubuat nabi Yesaya seperti yang tertulis dalam Kitab Yesaya 56:1-8. Dalam perikop ini, Yesaya menubuatkan keselamatan Israel yang akan merangkum juga orang-orang yang secara tradisional terbuang dari persekutuan Ibadah Israel, misalnya : orang-orang asing dan orang-orang kebiri. Namun dalam pasal ini nubuat Yesaya diatas justru mereka itu dihibur untuk tidak merasa kuatir dibedakan dan dipisahkan dari umatNya yaitu Israel ( Yes 56:3). Mereka dijamin asal mereka hidup seperti “umatNya” (Israel) yaitu dengan memelihara hari-hari SabbathKu, memilih apa yang Kukehendaki dan yang berpegang kepada perjanjianKu ( Yes 56:4), maka mereka inipun akan diberi “tanda peringatan dan nama” di “dalam rumahKu dan di lingkungan tembok-tembok kediamanKu ( ayat 5) yaitu di Bait Allah di Yerusalem, dengan itu mereka ini juga akan “Kubawa ke gunungKu yang kudus dan akan Kuberi kesukaandi rumah doaKu” (ayat 7) yang juga adalah bait Allah di gunung kudus Sion di Yerusalem. Dengan demikian Allah akan berkenan kepada “korban- korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbahKu” (ayat 7). Dari sini jelas dapat kita lihat, bahwa disana tidak menunjukkan bahwa nubuat tersebut terkait erat dengan nubuat yang menunjuk pada Gereja Kristen yang akan memelihara Sabbath. Namun ini justru menunjuk akan universalitas agama yahudi itu sendiri, dimana Sabbath, korban bakaran, korban sembelihan serta bait Allah itu adalah simbol jasmani yang nampak dari system keagamaan mereka. Jika pada Taurat Musa bahwa untuk menjadi yahudi hanya dibatasi oleh orang-orang Israel secara jasmani saja dan orang-orang yang memiliki alat vitas yang lengkap, sekarang mereka tak dibatasi lagi. Mereka boleh juga menjadi umat Tuhan dengan umat Israel lainnya, asal mereka hidup seperti unmat Israel itu. Inilah yang dalam sejarah akhirnya disebut sebagai “Kaum Proselit” (penganut agama yahudi, namun bukan yahudi asli , Kisah 2:11). Dengan demikian jelas, bahwa perikop ini sama sekali tak menubuatkan tentang Sabbath yang akan dipelihara orang-orang Kristen yang bukan Yahudi, namun membicarakan “kaum Proselit” yaitu orang-orang bukan yahudi yang memeluk agama yahudi dengan ketentuan melaksanakan hukum keagamaan yahudi, termasuk Sabbath. Dari sini pembahasan kita sebelumnya makin diteguhkan bahwa Sabbath itu terkait erat dengan baity Allah, korban bakaran, korban sembelihan dan perjanjian dengan Israel. Artinya Sabbath itu berkaitan dengan system ibadah dan kehidupan Israel sebagai bangsa dan bukan untuk hal yang lain.

Jika orang Kristen hendak memelihara Sabbath atas dasar nubuatan yang tertera dalam Kitab Yesaya ini, karena mereka merasa dirinya sebagai orang asing dan bukan yahudi, maka harus diingat bahwa nubuat ini bukan hanya membicarakan Sabbath saja, namun juga membicarakan tentang korban bakaran, korban sembelihan, mezbah dan Bait Allah, dimana semuanya itu harus dijalankan seiring dengan pemeliharaan dari Sabbath tadi.
Mengambil hari sabbathnya saja, kemudian mengabaikan hal-hal lain yang disebutkan dalam perikop nuibuat yang sama, berarti melanggar kebenaran pernyataan nats kitab suci, yaitu melanggar Firman Tuhan sendiri.

Dalam Kitab Yesaya 66:18-23 ditegaskan adanya nubuatan yang berbicara tentang bertobatnya bangsa-bangsa bukan yahudi yang akan melihat kemuliaan Allah diantara orangh-orang Israel dan dikembalikannya semua kaum Israel yang dalam pembuanmgan ke Yerusalem (ayat 20), sehingga mereka akan mempersembahkan korban dalam bait Allah serta dipulihkannya imam-imam dan orang-orang Lewi dari antara mereka yang baru saja kembali itu. Dan bangsa-bangsa lain yang menganut agama yahudi itu akan terus menerus datang sujud untuk menyembah Tuhan, yang dinyatakan dalam ayat 23 :”Bulan berganti bulan, dan Sabbath berganti Sabbath, maka seluruh manusia akan datang untuk sujud menyembah di hadapanku firman Tuhan”. Ayat ini digunakan oleh kaum Sabbathisme untuk menunjang dan membuktikan bahwa Sabbath itu akan selalu dipelihara oleh bangsa-bangsa lain. Namun melihat konteks perikop ini, jelas kesimpulan yang demikian itu, tidak dapat dibenarkan. Mengapa ? karena ayat 23 ini tak membicarakan tentang perintah bahwa bangsa-bangsa non- yahudi harus memelihara Sabbath. Namun yang dibicarakan disana adalah bahwa selama ada waktu dibumi ini, maka menurut cara hitungan Yahudi disebut :”bulan beganti bulan, dan Sabbath berganti Sabbath” dan bangsabangsa yang bertobat kepada Allah itu akan datang dan sujud menyembah Dia.

Selanjutnya harus diingat juga, bahwa bahasa yang digunakan Yesaya itu, sangat ketat dengan menggunakan simbol dan system keagamaan Yahudi: bait Allah, korban, Yerusalem, Imam-imam dan orang-orang Lewi. Jika demikian halnya sukarlah bagi kita untuk mengerti mengapa dia juga menggunakan Sabbath untuk menghitung waktu ? karena satuan yang terkecil itu dalam system daur lingkaran hari peringatan keagamaan Yahudi adalah Sabbath dan itu merupakan simbol keagamaan yang penting bagi kaum Yahudi, maka dengan menggunakan”Sabbath berganti Sabbath” ini, Yesaya hendak menjelaskan mengenai bergulirnya waktu yang terus menerus dan kelestarian penyembahan yang dilakukan oleh kaum Proselit ini. Dengan demikian jelas bahwa ekspresi diatas tidak menunjuk atau menubuatkan apapun tentang perintah memelihara Sabbath bagi orang-orang bukan Yahudi yang bukan proselit, apalagi gereja Kristen yang bukan bagian dari “bangsa Israel” secara fisik itu. Memang dari kacamata Kristen, semua nubuat Yesaya ini sudah digenapi dalam PRIBADI Kristus dan GerejaNya. Namun dalam fakta historisnya ternyata Gereja Kristen itu, ternyata bukan hanya sekedar tiruan tambal sulam dari system kehidupan keagamaan Israel. Sebaliknya itu mempunyai system Perjanjian yang sangat berbeda, yang pada saat dinubuatkannya itu, masih bersifat lambang dengan simbol-simbol fisik keagamaan yahudi. Untuk itu marilah kita lihat bagaimana Gereja Kristen itu dinubuatkan oleh Kitab Suci bangsa yahudi : Perjanjian Lama, menurut kacamata Iman Kristen, terutama yang terkait dengan Sabbath.

Nubuat Tentang Datangnya Perjanjian Baru

Dalam Kitab Yeremia 31 :31-34, disana dinyatakan tentang rencana Allah bagi “kaum Israel dan kaum Yahudi” untuk mengadakan “Perjanjian Baru” dimana sifat dan keberadaan Perjanjian itu, “bukan seperti Perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir”. Artinya Perjanjian Bary itu akan berbeda sama sekali baik dalam wujud maupun hakekatnya dengan Perjanjian lama, yaitu Perjanjian keluar dari tanah Mesir. Sabbath adalah meterai dan tanda kekal bagi Perjanjian lama yaitu perjanjian “dengan nenek moyang….pada waktu Aku…membawa mereka keluar dari tanah Mesir” seperti yang telah kita bahas diatas.

Namun Perjanjian Lama dengan nenek moyang itu, berdasarkan keluaran dari Mesir ini, pada saat Yeremia diilhami Allah yang hendak mengadakan Perjanjian itu, “telah mereka ingkari” artinya telah ditolak oleh Israel. Berarti Perjanjian yang berlandaskan pada pengalaman keluar dari Mesir dengan segala tatacara dan meterai kekalnya yaitu Sabbth, itu tidak mampu untuk mengubah atau menguduskan Israel, meskipun tujuan Sabbath itu adalah untuk menguduskan Israel. Artinya “Hukum ketetapan Allah yang berwujud undang undang tertulis yaitu Taurat, itu harus diperbaharui bentuknya, yaitu dengan jalan “Aku akan menaruh TauratKu dalam batin mereka, dan menuliskannya dalam hati mereka…”. Dalam Perjanjian Baru yang bersifat batin dan hati dan bukan bersifat hukum tertulis inilah :”Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatKu”. Terlaksananya Perjanjian baru dimana taurat atau hukum-hukum Allah itu akan diam dalam batin dan hati manusia, dan bukan lagi dalam lembaran lembaran hukum-legal yang tertulis itu diterangkan oleh Yehezkiel sebagai berikut :”Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu…RohKu akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapanKu dan tetap berpegang pada peraturan peraturanKu dan melakukannya” (Yehezkiel 37:26-27). Kebenaran inilah yang dikatakan oleh Js. Paulus dalam suratnya II Kor 3:6 bahwa : “…Perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis (yaitu :Taurat), tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan”.

Dengan demikian maka menurut nubuat kedua nabi ini, Perjanjian baru yang diadakan oleh Allah itu bukanlah Taurat tertulis, namun Roh Kudus yang berdiam dalam batin dan hati. Manusia tidak lagi ditiuntut oleh suatu hukum yang tertulis yang berada diluar dirinya tertyera dalam sebuah buku, namun dari dalam dirinya timbul kemampuan bertindak oleh Roh Kudus, dimana buah tindakannya itu sesuai dengan tuntuitan moral dari Hukum taurat yang tertulis. Dengan demikian dalam Perjanjian baru yang dinubuatkan ini, jelas tak ada tempat bagi legalisme dan pemaksaan ketentuan yang bersifat hukum yang sangat legalistic dalam hakekatnya, semacam pemaksaan pelaksanaan hari Sabbath. Lagi pula Perjanjian baru yang akan diadakan Allah itu bukan seperti Perjanjian keluaran dari Mesir, dimana Sabbath itu sebagai meterai dan tanda kekalnya. Perjanjian Baru itu bersifat batin dan hati oleh karya Roh Kudus. Roh kudus itu akan diberikan oleh Allah ke batin manusia. Padahal kita tahu bahwa datangnya Roh Kudus didalam batin manusia itu adalah sebagai akibat karya penjelmaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus Kristus ( Kis 2:32-33). Karena Perjanjian Baru itu bersifat Roh dan bukan bersifat hukum tertulis, dan juga datangnya Roh itu karena karya penjelmaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Kristus, dan bukan akibat keluarnya dari tanah Mesir yang melaluinya taurat itu datang dan dunyatakan Allah, maka jelas tanda dan meterai Perjanjian Baru yang pasti bukan Sabbath, karena Perjanjian Baru yang dijanjikan itu “bukan seperti Perjanjian….keluar dari tanah Mesir”, seperti yang dikatakan oleh Nabi Yeremia diatas tadi. Dengan demikian sungguh suatu kekeliruan yant besar dan ketak –fahaman yang mendalam akan makna Kitab Suci jika orang menyatakan diri sebagai anggota Gereja Kristus berdasarkan Perjanjian baru, kemudian menekankan meterai dan tanda Perjanjian lama yaitu meterai keberadaan dan kebangsaan dan keagamaan Israel sebagai sesuatu yang mengikat dan diharuskan bagi orang Kristen.


Dasar Sejarah Perjanjian Baru

Telah kita bahas bahwa keluaran dari Mesir itulah dasar sejarah dan peristiwa yang didalamnya Perjanjian lama itu dibuat oleh Allah dengan Israel, dengan Sabbath sebagai tanda dan meterai Perjanjian tadi. Perjanjian Baru memiliki peristiwa Yesus (Penjelmaan, Penyaliban, Kematian, kebangkitan dan Kenaikan Yesus Kristus) sebagai dasar pemberitaan dan pengajarannya.

Js. Yohanes dalam Injilnya mengatakan :”Firman itu telah menjadi manusia” (Yoh 1:14), artinya bukan lagi menjadi loh batu yang tertulis atau huruf-huruf Ibrani dari Kitab Taurat. Sekarang firman Allah itu bukan lagi berwujud hukum dan ketentuan-ketentuan legalistic Taurat, namun menjadi manusia dengan sebutan Yesus Kristus. Inilah yang diberitakan para rasul, seperti juga yang dijelaskan oleh Js. Yohanes dalam suratnya yang pertama :”Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan, dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup- itulah yang kami tuliskan kepada kamu “ (1 Yoh 1:1). Karena telah di dengar, dilihat dengan mata, di saksikan, dan diraba dengan tangan, sebagai sesuatu mahluk jasmani yang hidup sebagai manusia itulah Kristus disebut “Firman Hidup”, berbeda dengan Kitab taurat yang adalah benda mati yang tertulis. Itulah hukum tertulis yang mematikan kata Js. Paulus. Hanya Firman yang hidup itulah yang menghidupkan. Dengan kata lain peristiwa Yesus (Firman) sebagai manusia yang hidup itulah yang menjadi inti dan dasar berita para rasul yang diberitakan dengan lisan maupun dalam tulisan. Dan dari seluruh peristiwa Firman menjadi manusia “yang hidup” ini maka yang sangat sentral dan penting adalah peristiwa penyaliban, kematian, kebangkitanNya, sebagaimana yang dikatakan oleh Js. Paulus :”Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu….ialah bahwa Kristus telah mati kerena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari ketiga…bahwa Ia telah menampakkan diri…” (1 Kor 15:3-5). Inilah Pondasi dari Iman Kristen, bukan Taurat, bukan Sinai dan jelas bukan Sabbath, sebab :”Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-silah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu” ( Kor 15:17). Iman kita punya makna hanya karena Kristus telah bangkit, dan kita dilepaskan dari dosa juga dikarenakan peristiwa yang sama. Dengan demikian jelas, bahwa oleh kematian dan kebangkitan Kristus itulah, kita dilepaskan dan dikeluarkan dari dosa dan maut, dan ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh surat Ibrani :”..oleh kematianNya Ia telah memusnahkan dia, yaitu Iblis,…dengan jalan demikian Ia telah membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan,…” (Ibr 2:14-15). Ayat ini menjelaskan bahwa manusia memang tidak bebas dan berada dalam perhambaan dan perbudakan, namun bukan perbudakan Mesir seperti Israel, tetapi perhambaan Iblis dan maut. Dan kematian Krisuslah yang membebaskan manusia ini dari perhambaan tadi. Jelas kalau begitu peerhambaan dan perbudakan oleh manusia sebelum percaya Kristus tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan fisik seperti perbudakan dan perhambaan Israel di tanah Mesir, namun perbudakan pada maut, Iblis , kelapukan dan dosa. Serta pelepasan mereka bukanlah pelepasan untuk menjadi komunitas bangsa secara fisik dalam lokasi wilayah Negara tertentu dengan ketentuan hukum sosial politik dan keagamaan tertentu, namun pelepasan untuk mendapatkan hidup kekal didalam Kristus. Dengan demikian jelas bahwa Sabbath tak ada sangkut pautnya dengan peristiwa semacam ini. Sabbath yang intinya “berhenti kerja” karena memang Sabbath itu merupakan peringatan “berhenti kerja” nya Isreal dari perhambaan. Maka terlepasnya orang dari dosa, Iblis, kelapukan dan maut itu, haruslah bukan yang bersifat “berhenti kerja”, namun yang ada sangkut pautnya dengan hidup kekal atau Kristus itu sendiri. Karena makna Sabbath itu dipaksakan, maka bagaimanapun juga tak akan dapat menyelaraskan diri dengan peristiwa mendasar dari sejarah kebebasan dan keluaran dari dosa, Iblis, kelapukan dan maut yang telah terjadi melalui kematian dan kebangkitan Kristus itu sendiri. Dengan demikian hubungan makna Sabbath dengan kematian dan kebangkitan Kristus itu tidak ada secara hakiki. Akhirnya hanya akan menimbulkan tambal sulam yang tak konsisten dengan fakta kebenaran Iman Kristen itu sendiri. Jadi agar suapaya focus kita terang mengenai makna keselamatan di dalam Kristus, seharusnya kita juga memahami tentang Perjanjian baru dan Sabbath sebagai tanda perjanjian antara Allah dan Israel dalam Perjanjian lama.

Patut diperhatikan bahwa dalam Perjanjian baru secara keseluruhan, tak pernah memberitakan sedikitpun tentang sentralitas dan pentingya Sabbath ini. Jika Sabbath itu disinggung, itu hanya karena konflik yang muncul antara para Murid Yesus dengan orang-orang yahudi mengenai masalah perayaan hari Sabbath itu saja dan juga karena lingkup sejarah penulisan Perjanjian baru itu adalah diantara bangsa Yahudi sehingga dalam menghitung waktu dan hari, tak mungkin lepas begitu saja tanpa menyebut hari Sabbath. Tetapi Sabbath itu sendiri tak pernah menjadi inti dari berita Perjanjian Baru. Kristus dan karyanyalah itulah focus berita Perjanjian Baru. Jadi bukan Hukum Sepuluh dan bukan pula Sabbath.

Sabbath dalam Hidup Kristus

Diatas telah kita bahas mengenai sikap Yesus dan ajaranNya tentang Sabbath Yahudi, yang pada pokoknya Yesus mengubah dan memporak-porandakan makna Sabbath sebagai hari untuk berhenti dari melakukan sesuatu pekerjaan menjadi hari “melakukan sesuatu pekerjaan yang baik”. Denmgan demikian Yesus sudah memulai suatu perombakan makna dari Sabbath sebagai tanda perjanjian yang berpusat pada pengtalaman keluaran dari Mesir, menjadi suatu peristiwa yang berpusat pada diriNya. Hal ini dibuktikan pada saat Dia ditantang kaum ulama Yahudi, Dia mempertanggung-jawabkan perbuatanNya dengan mengatakan :”Karena Anak manusia adalah Tuhan atas hari Sabbath” (mat 12:8). Sebagai Tuhan (Penguasa) “atas” hari Sabbath, berarti Yesus berkuasa untuk melakukan apapun atas hari Sabbath, itu ytermasuk mengubah dan memberikan makna yang baru. Dengan demikian Yesus tidak tunduk pada ketentuan “berhenti dari pekerjaan apapun”, Sabbathlah yang harus tunduk kepada Yesus, karena Yesus itu adalah Tuhan (Penguasa) “atas” hari “Sabbath”.

Memang setiap hari Sabbath “menurut kebiasaanNya….Ia masuk kerumah Ibadat (Lukas 4:16), namun Dia melakukanNya bukan karena Sabbath dan segala ketentuannya itu berkuasa “atas” Dia, namun justru sebaliknya Dia masuk ke rumah Ibadat setiap hari Sabbath itu, untuk menunjukkan bahwa sekarang bukan lagi Sabbath yang harus menjadi tanda Perjanjian, namun justru diriNyalah itu penggenap Perjanjian (Lukas 4:21), dan dengan demikian Dia sekarang yang berkuasa atas segala sesuatu termasuk hari Sabbath, sehingga manusia hidup bukan lagi untuk hari Sabbath. Artinya tujuan hidup manusia itu bukan digunakan untuk mengabdi pada Sabbath, namun sebaliknya “hari Sabbath diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabbath” ( Mark 2:27). Sabbath mengabdi pada kepentingan manusia.

Itulah sebabnya tak petrnah sekalipun Yesus dalam pengajaranNya meninggikan atau menjunjuing Sabbath, Dia membicarakan tentang Sabbath hanya dalam konteks konfrontasi perjumpaanNya dengan pemimpin agama yahudi yang menentang sikapNya terhadap Sabbath yang justru oleh mereka dilihat sebagai hujatan dan bertentangan dengan ketetapan dari Kitab Suci Perjanjian lama.

Kita berjumpa lagi dengan masalah Sabbath ini pada akhir kehidupan Kristus, yaitu pada saat penyaliban, kematian, penguburan dan kebangkitanNya. Namun bukan Kristus sendiri yang membahas Sabbath dalam konfrontasi dengan orang-orang yahudi, tetapi para murid yang menulis Injillah yang menyebutkannnya, bukan sebagai bukti bahwa para murid itu mengajarkan suapaya Sabbath itu dipelihara sebagai perintah Kristus, namun hanya sebagai sarana perhituingan waktu untuk menjelaskan saat dan hari ketika mana Kristus disalibkan, mati dan bangkit itu, dengan menggunakan perhitungan hari menurut budaya Yahudi, karena Yesus memang orang yahudi dan ditengah-tengah bangsa Yahudi itu Dia mengalami penyaliban, kematian – penguburan, dan kebangkitanNya itu.

Js. Matius menerangkan dalam Injilnya, saat dan hari ketika Yesus mengalami derita akhir dari hidupNya itu demikian “Sesudah membicarakan saat malam Yesus diolok dan dicemooh dan paginya (hari Jumat) dibawa menghadap Pilatis (Mat 27:1-2), dan disalibkan pada hari itu juga :”keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang farisi bersama-sama menghadap Pilatus” (Mat 27:62). Jadi menurut ayat ini hari ketika Yesus disalibkan dan dikuburkan dalam ayat-ayat sebelumnya dalam matius 27 ini, disebut oleh Js. Matius (perhatikan : bukan oleh Yesus ) sebagai “hari Persiapan” (paraskevee), yaitu hari jumat sebagai “hari persiapan” bagi orang Yahudi untuk merayakan hari Sabbath. Sedangkan dalam matius 28:1, ketika para murid wanita mengunjungi kuburan pada saat kebanmgkitan Yesus disebutkan demikian :”Setelah Hari Sabbath lewat… pada hari pertama Minggu itu….”, yang menunjukkan bahwa Yesus tidak melakukan apapun secara fisik diantara hari persiapan sampai dengan hari pertama Minggu itu, yaitu selama Hari Sabbath itu Yesus berada di kuburan pasif tergeletak seolah-olah beristirahat dari semua karyaNya selama 6 hari bagi penciptaan baru atas dunia ini, sejak minggu palem (Mat 21:1-23), Senin Kudus (Mat 24:3-35), Selasa kudus (Mat 24:36-26:2), Rabu Kudus ( Mat 26:2-26 “dua hari lagi akan dirayakan paskah” ayat 2, menunjukkan saat itu hari rabu, karena paskah terjadi hari sabtu), kamis kudus ( Mat 26: 17-75), dan jumat agung (mat 27:1-61), dan pada hari Sabtu yaitu hari ketyujuh Yesus berhenti atau istirahat dari segala karya penciptaan baru yang dilakukanNya selama enam hari di dalam kubur menanti penggenapannya yang dimeteraikanNya segala karya tadi oleh kebangkitan, pada hari sesudah Sabbath lewat, yaitu pertama Minggu itu, hari pertama atau Hari Satu itulah hari Ahad dalam bahasa Arab. Dan karena hari Ahad (Satu) itu adalah hari kebangkitan Kristus sebagai puncak dari karyaNya selama enam hari dan beristirahat selama hari ketujuh dalam kuburan, maka hari pertama itu disebut sebagai “Hari Tuhan” (Kuriakee) yang sampai sekarang masih dikenal demikian dalam kalender Gereja Orthodox dan kalender nasional Negara Yunani, dimana kata Kuriakee (Kyriaki diambil dari kata Kyrios = Tuhan) itu disebut dalam bahasa Fortugis “Dominggos” dan itu akhirnya menjadi Minggu dalam bahasa Indonesia.

Demikianlah dalam penciptaan barupun Allah melalui SabdaNya yang menjelma, berkarya selama enam hari dan beristirahat pada hari ketujuh di dalam tergeletakNya Sang Sabda menjelma ini dsi dalam kuburan. Namun berbeda dengan penciptaan lama dimana pada hari ketujuh itu sudah lengkap selesai penciptaan itu, dalam penciptaan baru ini, selesai dan puncak karya selama enam hari bagi penebusan sejak minggu Palem itu, bukan pada hari terkuburNya atau beristirahatNya Kristus dalam kuburan, namun kebangkitanNya pada hari Ahad atau Hari pertama, karena jika “Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-silah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosa” ( I Kor 15:7).

Itulah sebabnya jika hari ketujuh sebagai hari perhentian itu dirayakan, namun maknanya sudah berbeda dari Sabbath dalam Perjanjian Lama. Ini harus berpusat pada karya penciptaan baru yang dilakukan Kristus selama seminggu kesengsaraanNya atau pecan sengsara itu. Dengan demikian hari Sabbath sekarang ini, mengingat saat penguburan atau perhentian Kristus dari segala karyaNya untuk menunggu penggenapannya dalam hari kebangkitanNya yang terjadi pada hari pertama (Hari Ahad atau Hari Minggu) tadi. Itulah sebabnya dalam Gereja Purba yang tetap dilakukan oleh Gereja Orthodoks sampai sekarang, Sabbath itu tetap hari Sabtu, bukan Hari Minggu, namun makna Sabbath itu berbeda dari makna yang diberikan dalam Perjanjian Lama. Bukan lagi itu tanda Perjanjian Pelepasan dari Mesir, namun sebagai peringatan akan perhentian karya Kristus di dalam kuburan, dengan demikian meskipun kita merayakan Hari Sabtu sebagai hari Sabbath, namun kita tak terkait lagi pada ketentuan-ketentuan Sabbath seperti yang digariskan oleh Perjanjian lama, tetapi ketentuan Sabbath seperti yang digariskan oleh Kristus sendiri, yaitu bahwa pada hari Sabbath boleh melakukan sesuatu pekerjaan yang baik. Dan hari Sabbath itu sebagai peringatan hari perhentian (Penguburan) Kristus itu, dirayakan dengan cara menjalankan Ibadah Sembahyang Senja, yang lambang-lambang Ibadah itu secara detail menggambarkan keberadaan Kristus dalam kuburan tadi. Dengan demikian Hari sabtu tiodak dilanggar, ketentuan-ketentuan Tauratpun tak dilanggar, karena sekarang kita bebas dari ketentuan-ketentuan Sabbath dalam Taurat, namun terikat erat dengan Kristus dalam peringatan deritaNya tadi. Namun karena hari Tuhan itu adalah hari pertama, perayaan kebangkitan Kristus tetap dirayakan pada hari pertama tadi, yaitu pada hari minggu, dimana pada hari Tuhan ini kita diupersatukan dengan Tubuh Tuhan yang bangkit itu melalui perayaan Perjamuan kudus yang dirayakan setiap kali kita bertemu pada hari Tuhan ini. Jadi jelas Minggu itu bukan hari Sabbath, namun Hari Tuhan. Ini bukan perayaan hari perhentian namun perayaan hari kebangkitan. Sedangkan sabtu itulah Sabbath, namun bukan sebagai tanda Perjanjian keluaran dari Mesir, justru sebagai peringatan Hari Perhentian Kristus dalam kuburan. Dengan demikin Sabtu itu bukan hari terpuncak, namun harus dimeteraikan oleh hari kebangkitan yaitu hariu Ahad atau hari Pertama.

Dengan demikian kita melihat suatu ajaran Alkitab yang konsisten dan bersifat Kristosentris. Sabbath tetap Sabtu, dan harus dirayakan sebagai peringatan perhentian Kristus dalam kuburan, namun itu bukan akhir pada dirinya sendiri, karena harus dimeteraikan oleh peringatan hari kebangkitan, yaitu hari Minggu. Dari sini kita diselamatkan terhadap main comot ayat-ayat Alkitab, tanpa melanggar yang ini atau itu, dan tanpa berjalan terpincang-pincang sebentar lari ke Taurat lalu sebentar lagi lari ke Injil.

Adalah suatu kekeliruan yang besar, jika kita mengatakan bahwa Sabbath itu sudah diganti hari Minggu. Dalam kalender resmi Gereja Orthodoks yang juga kalender nasional Negara Yunani, hari Sabtu itu disebut “Sabbato”, jadi jelas Sabbath itu tetap Sabtu. Dan juga suatu kekeliruan yang besar mengatakan bahwa Hari Minggu atau “Hari Tuhan” itu berasal dari perayaan kafir. Sabbath tetap sabtu, seperti telah kita katakana, namun itu harus dimeteraikan oleh perayaan hari kebangkitan yaitu hari Minggu. Bagaimana suatu peringatan dari peristiwa maha penting ini dianggap sebagai perayaan agama kafir, sungguh ini merupakan suatu teka teki dan tak dapat terpahami.

Dalam Perjanjian baru tak ada satupun perintah yang menyuruh orang Kristen untuk merayakan hari sabtu sebagai hari perhentian yang harus dirayakan. JIka dalam Injil disebutkan tentang hari persiapan, hari Sabbath dan hari pertama dalam konteks kesengsaraan Yesus, itu hanya merupakan perhitungan saat sesuai dengan budaya Yahudi, namun bukan suatu perintah bagi orang Kristen, dan bukan pula merupakan bukti bahwa itu adalah perintah yang harus dijalankan. Ingat, bahwa waktu Yesus mati itu Gereja belum ada, orang Kristen dalam pengertian kita sekarang masih belum ada. Yang ada yaitu orang-orang Yahudi yang terikat dengan hukum-hukum agama Yahudi termasuk perintah Sabbathnya, yang mempercayai bahwa Yesus itulah Sang Mesias. Namun mereka belum merasa sebagai suatu komunitas agama yang terpisah dari bangsa Yahudi. Gereja baru lahir pada saat Roh Kudus turun di hari pantekusta. Itupun tak langsung membuat para rasul itu sadar akan missi mereka bagi orang-orang Non Yahudi (Kis 10:28-29)., sehingga Petruspun mula-mula merasa keberatan untuk datang ke rumah Kornelius. Beberapa tahun kemudian barulah orang-orang Kristen sadar akan keberbedaan mereka dari Umat yahudi. Herankah kita kalau beberapa diantara mereka masih terikat hukum-hukum ketentuan Sabbath dalam Perjanjian Lama, sehingga makna Kristus itu sendiri baru secara pelan-pelan terhayati secara paripurna. Melihat latar belakang ini, maka kita tak mungkin menganggap sebutan akan nama-nama hari secara yahudi dalam masa-masa akhir hidup Yesus itu sebagai perintah bagi Gereja Kristen. Itulah cara budaya yahudi menghitung waktu, tak lebih dan tak kurang.


Sabbath Dan Hari Pertama Dalam Perjanjian Baru

Alkitab tak pernah memerintahkan kita merayakan hari Minggu, demikian celoteh banyak orang. Namun kitab suci Kristen “Perjanjian Baru” pun tak pernah memerintahkan orang merayakan hari sabtu, demikian sambut yang lain. Kedua pernyataan yang demikian ini menunjuk kesalah-fahaman yang besar mengenai makna Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian baru. Iman Kristen mengajarkan bahwa wahyu Illahi itu bersifat berkembang secara pelan-pelan, yang seluruh perkembangan itu akhirnya berpuncak pada Yesus Kristus. Itulah sebabnya penulis surat Ibrani mengatakan bahwa :”Pada zaman dahulu” Allah berbicara melalui “Nabi-Nabi” sedangkan “pada zaman akhir ini” Allah berbicara didalam “AnakNya” ( Ibrani 1:1). Hal yang sama dikatakan oleh Js.Paulus ketika Dia mengatakan :”Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat” (Roma 10:4), dan ketika Dia mengatakan :”karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman mengenai hari raya, bulan baru atau Sabbath semuanya itu hanyalah bayangan….sedangkan wujudnya ialah Kristus” (Kol 2:16-17). Yang ini ditandaskan lagi oleh Kristus:”Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakannya melainkan UNTUK MENGGENAPINYA” ( Matius 5:17 ) . Kristuslah wujud dan kegenapan Hukum Taurat. Karena wujud dan kegenapan hukum Taurat itu bukan berwujud ajaran tertulis seperti Hukum Taurat itu sendiri namun berwujud “Firman .. menjadi manusia” (Yohanes 1 : 14), maka yang menjadi landasan beriman dan berbuat serta beribadah bagi umat Kristen bukanlah hanya sekedar apa yang pernah diperintahkan saja oleh Yesus, seperti perintah – perintah Taurat. Namun segala tingkah-laku,peristiwa, ajaran dan bahkan kepribadian Kristus itu sendiri menjadi landasan iman,ibadah,akhlak dan tingkah laku Kristen. Ringkasnya Yesus keutuhan pribadi dan keberadaanNya itulah Firman yang harus menjadi landasan hidup Kristen.

Sebagai Firman yang menjelma dalam sejarah, maka sejarah hidup Yesuslah sekarang menjadi hari peringatan yang harus dirayakan sebagai suatu tanggapan ucapan syukur kepada Allah,meskipun kalau bukan secara terang – terangan dikatakan harus dirayakan. Karena Injil yaitu perjanjian baru itu tak terdiri dari hukum tulis namun hidup Roh Kudus, sehingga Roh yang membangkitkan Kristus itu (Roma 8 : 11) akan mendorong orang Kristen untuk merayakan karya besar yang telah dilakukanNya pada hari Kristus dibangkitkan.Oleh dorongan hidup Roh inilah orang Kristen merayakan hari kebangkitan. Bukti bahwa hari kebangkitan ini sudah diperingati akan nampak dalam hal – hal berikut ini :“Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpulah murid murid Yesus di suatu tempat dengan pintu pintu terkunci karena mereka takut kepada orang – orang Yahudi” (Yohanes 20 : 19). Para murid jelas berkumpul pada hari Minggu, hari pertama. Namun para pembela Sabbath Yahudi, bukan Sabbath Kristen yaitu hari penguburan Kristus, menyanggah dengan mengakatan bahwa mereka berkumpul hari minggu karena takut pada orang – orang Yahudi bukan karena merayakan kebangkitan. Namun dalam struktur bahasa aslinya menunjukkan bahwa takut terhadap orang Yahudi itu tidak menerangkan berkumpulnya pada hari pertama, namun menerangkan tertutupnya pintu. Artinya mereka berada di tempat tertutup karena takut pada orang Yahudi, jadi bukan takut terhadap orang Yahudi lalu berkumpul pada hari Minggu. Logika juga mengatakan jika orang takut akan masyarakat maka bertermu ditempat bersembunyi. Jadi Minggunya itu bukan sebagai akibat dari takut orang Yahudi namun tertutupnya pintu. Maka jelas hari pertama itu sudah merupakan pertemuan para murid. Pertemuan hari Minggu ini rupanya dilanjutkan lagi pada saat “ Delapan hari kemudian murid murid Yesus berada kembali dalam rumah itu” (Yohanes 20 : 26), yang dalam ke dua peristiwa ini Yesus selalu hadir ditengah tengah mereka.bahwa pertemuan hari Minggu itu akhirnya menjadi kebiasaan orang Kristen, dapat kita lihat dari Kisah Rasul 20 : 7” Pada hari pertama pada dalam Minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah mecahkan roti “Juga dalam tulisan Paulus” Pada hari pertama dari tiap tiap minggu hendaklah kamu masing – masing … meyisihkan sesuatu (1 Korintus 16:2). Para pembela Sabbath Yahudi , akan mengatakan hanya suatu kebetulan saja , tak ada makna tertentu atas penyebutan hari pertama itu. Kalau hanya kebetulan saja, maka Alkitab berarti berisi sesuatu yang tak dapat dipakai sebagai landasan hidup dan hanya berasal dari omong kosong saja. Lagi pula jika itu suatu kebetulan mungkinkah yang kebetulan itu sampai beberapa kali, dan semuanya dalam kontek ibadah. Dua yang pertama berkumpul dimana Yesus hadir ditengah tengah mereka, dan yang satu dalam kontek perjamuan kudus, serta yang terakir dalam kontek memberikan persembahan persepuluhan. Lagi pula Alkitab mengatakan bahwa”.. dengan keterangan dua / tiga orang saksi suatu perkara sah”(II Korintus 13:2), padahal disini ada empat saksi mengenai hari pertama itu. Bukankah berdasarkan ketentuan Alkitab perkara itu sah dan bukan hanya sesuatu kebeteluan saja?. Lagi pula tak ada bukti satupun dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa Kristus berada di tengah tengah pertemuan muridNya pada hari Sabtu. Padahal pertemuan Kristen adalah untuk mengundang hadirat Kristus, dan Alkitab menunjukkan bahwa Kristus hadir dalam pertemuan itu justru hari minggu,hari peringatan kebangkitanNya sendiri. Jika dalam perjanjian baru ada bukti bahwa para murid terutama Paulus berbakti pada hari Sabtu, itu terjadinya didalam ibadah Yahudi yang memang merayakan hari Sabtu sebagai hari pertemuan (Kisah Rasul 13:13-49), dan itupun demi pemberitahuan injil. Namun tak ada bukti satupun yang menunjukkan hari Sabtu sebagai hari yang disanjung oleh umat Kristen dalam perjanjian baru.

+ Kemuliaan bagi Sang Bapa Sang Putra serta Sang Roh Kudus sekarang dan selalu serta sepanjang segala abad, amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar